Sabtu, 02 Juli 2016

Manusia seperti apakah aku?

Sering aku bertanya-tanya sendiri. "Manusia seperti apakah aku?"  Kedua orang tua ku pintar pandai cerdik namun mengapa aku tidak seperti mereka.  Aku lemah, lamban berfikir dan tidak cerdas, satu-satu kesamaan ku adalah golongan darah dengan almarhum papa AB dan sifat keras nya menurun padaku.
Di kala aku mulai mengerti apa itu hidup aku juga menyadari ada sesuatu yang salah pada diriku. Aku memang tumbuh menjadi orang yang supel dan mudah bergaul namun tidak memiliki keberanian untuk tampil aku menjadi minder dan tergagap bila maju ke depan.  Entahlah apa yang terjadi padahal aku sudah mempersiapkan semua nya dan cless tiba-tiba keberanian ku menguap saat harus berhadapan dengan orang banyak.  Dan dengan kondisi ini sangat sulit bagi ku untuk lolos interview kerja karena kegugupan ku. Aku selalu gagal di tahap pertam interview dan psikotes..Menyakitkan memang namun aku harus menelan semua nya.  Bahkan saat aku di pecat berkali-kali karena kemampuan ku tidak memadai.  Aku menjadi trauma untuk bekerja pada orang lain, namun ibu ku seolah tidak menyadari dan bertanya "Kamu udh ga mau kerja lagi ya?" Keadaan semakin parah saat ada keluarga yang datang ke rumah dan bertanya "Napa ga belajar jahit aja, daripada ga ngapa-ngapain ."  Aku jengah dan memilih diam sembari memainkan ponsel pintar ku.  Bukan nya aku ga mau belajar..Aku sangat ingin hanya otak ku yang tidak mampu. Aku tidak pintar berhitung dan penglihatan ku tidak seawas dulu lagi.
Memang orang tua ku menyayangiku hanya saja komunikasi terbuka tidak pernah ku alami.  Saat aku menanyakan kenapa ayahku hanya menjawab pokoknya ga boleh dan di situlah kesalahan nya. Mendesak ayahku untuk menberitahu malah membuat kami bertengkar dan ibu ku lah yang menjadi penengah.  Aku lebih memilih untuk mencari tahu sendiri. Padahal aku hanya ingin alasan mengapa itu tidak boleh. Aku dan ayahku memang tidak cocok.  
Lalu bagaimana dengan ibuku, ibuki seorang yang tangguh mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menjadi tulang punggung keluarga.  Aku sering merasa kesepian saat di rumah, saat aku ingin mengajak ibuku bicara , beliau hanya tenggelam dalam pekerjaan nya dan mengacuhkan ku.  Ibuku sangat sabar dan terbuka namun tetap saja kalah oleh ayahku, padahal ayahku tidak bekerja dan bergantung pada ibuku. Kadang aku bertanya mengapa mama begitu percaya pada ayahku dan menyerahkan uang nya untuk ayahku. Percaya atau tidak aku adalah orang tuaku telah gagal untuk membimbingku dan menempatkan aku pada kesulitan.
Berubah ? Tentu saja aku mau berubah menjadi percaya diri luar dalam tidak phobia terhadap keramaian. Nafasku sesak bila membayangkan harus tampil ke depan dan mempresentasikan sesuatu.  Seolah tatapan mata orang banyak ingin mengatakan "Cepat sana untuk apa lama-lama kami tidak ingin nelihatmu lebih lama."
Adakah mereka mengerti yang kurasakan? Mungkin tidak karena semua kerabat selalu bertanya hal yang ingin ku jawab.  Dengan muka tanpa dosa bahkan mereka bilang ya nama nya juga kerja..Arrggghh rasa nya ingin aku teriak dan mengatakan pada mereka, aku tidak mau dan tidak mungkin di terima bekerja dengan kondisi ku ini.
Namun aku hanya dapat berdiam diri menahan semua nya. Apalagi aku menikah juga karena kesalahan ku. Mungkin kalau tidak terjadi hal itu aku masih sendiri hingga sekarang. Hanya nasi sudah menjadi bubur, aku hanya dapat menjalani dengan banyak berdoa dan kesabaran.

Salam hangat untuk besan

Salam hangat untuk besan.  Apa kabar kalian? Apakah baik-baik saja?  Tentu nya tidak kan. Karena ku lihat raut kesedihan terpancar dari putri kami.  Besan!  Adakah yang salah dari putri kami di mata kalian? Jika ada mengapa kita tidak saling terbuka saja.  Kalian membesarkan putra kalian dengan limpahan kasih sayang yang tak berbatas, begitu juga dengan kami membesarkan putri kami.  Tak tehitung biaya yang sudah kalian keluarkan untuk kebutuhan makanan hingga sekolah begitu pun dengan kami.  Kalian menjaga putra kalian seolah-olah dia adalah harta kalian yang beharga tak kalian biarkan dia menangis karena hal kecil, maka demikian pula putri kami beharga untuk kami.
Putri kami rela meninggalkan kami orang tua nya demi hanya untuk mengikuti putra kalian yang adalah suami nya.  Namun kami mencemaskan perlakuan kalian kepada nya.  Tidakkah kalian sadar dia hanyalah orang asing sebelum bertemu dengan putra kalian.  Mengapa kalian memperlakukan putri kami tidak layak. Ingatlah bahwa kita juga adalah menantu dari mertua kita dan sekarang giliran kita yang menjadi mertua bagi anak-anak kita.
Wahai besan!  Sebenarnya apa tujuan kalian saat anak kita memutuskan untuk menikah? Apa kah untuk mendapat menantu atau pembantu? Tentu saja kalian akan menjawab kami mendapat menantu.. Tapi kami orang tua nya jelas melihat kalian hanya ingin mendapat pembantu.
Sekarang di rumah kalian dia harus mengerjakan pekerjaan yang sebelum nya tidak pernah kami bayangkan di rumah kami.  Mungkin kalian berfikir kami sangat memanjakan nya. Iya karena dia adalah tuan putri di hati kami yang senyum nya bagaikan siraman energi yang menyemagati kami untuk bekerja dan menghadapi hidup.  Dan sekarang sinar itu sudah redup menghilang entah sampai kapan.  Dan kalian tidak pernah dapat mengerti itu semua karena kalian tidak melahirkan nya.  Namun dari nya lah cucu-cucu kita kelak lahir.
Kalian terlalu memasang standar tinggi atas semua yang di lakukan nya tanpa peduli dia bisa atau mau, yang kalian inginkan hanya paksaan agar "menantumu" menghormati mu.  Apakah kalian merawat nya setulus hati dan menyiapkan makanan kesukaan nya saat dia sakit seperti kalian merawat putra kalian ? Apakah kalian dapat menahan diri untuk tidak memarahi nya saat putra kalian tidak ada di rumah?
Apakah kalian pernah menganggap dia adalah ibu dari cucu mu? Apakah menurut kalian "menantumu" adalah beban bagi keluarga kalian?  Sebagai orang tua memang kita tidak bisa melihat anak kita dalam kesusahan, namun sekali saja kesalahan anak kita akan terus menempel layak nya bayi padahal tanpa kita sadari usia dan fisik kita sudah menua.
Kalian sebagai orang tua putra kalian tidak masalah dengan hal itu?  Namun kami sebagai orang tua dari "menantu" kalian sangat terganggu dan yang menyakitkan kami tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk nya. Jika dulu tangan kami selalu terulur saat putri kami terjatuh sekarang kami hanya dapat mengamati nya saja. Karena putra kalian sudah mendapatkan hak melebihi kami orang tua kandung nya.





Rabu, 29 Juni 2016

Surat untuk suami ku

Hai untuk lelaki yang berstatus sebagai suamiku.  Aku menulis ini bukan tanpa sebab, sebagai istri mu aku sering tidak merasa di anggap.  Bagamana dengan komunikasi ? Oh sangat kurang suamiku, kau sering sekali tidak memberitahukan ku apabila kau pergi untuk waktu lama padahal aku sudah sering memberitahukan mu agar mengabari ku bila kau pergi tidak sesuai dengan rencana awal.  Namun kau banyak beralasan tidak sempat memegang ponsel mu untuk mengetik pesan singkat singkat.  Aku hanya dapat menahan kekesalan di hati.
Bagaimana dengan prioritas mu? Oh tentu  prioritas utama mu adalah orang tua dan keluarga besar mu. Begitu kau menerima telepon dari salah satu keluarga mu , kau langsung bergegas untuk meninggalkan aku yang belum terbiasa dengan tempat baru yang asing bagi ku.  Aku ketakutan dan tidak bisa memejamkan mata.  Katakan padaku bagaimana aku harus bersikap tentang hal ini.
Bagaimana dengan perasaan aman? Belum suami ku, aku belum merasakan keamanan dari mu. Kau sebagai suami tidak bisa atau tidak mau memahami ku.  Kau yang dari awal melarang ku untuk tidak bekerja lagi, kini saat anak-anak kita sudah berpulang aku sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan kondisi fisik ku, padahal aku membutuhkan tabungan untuk diriku sendiri.
Apa kau mengerti bagaimana tersiksa nya aku secara mental karena perlakuan ibu mu.  Dari awal menikah aku sudah mewanti-wanti agar kita tidak tinggal bersama orang tua mu.  Namun hanya alasan yang kau berikan. "Saya tidak punya uang untuk mengontrak rumah, kalau mau pakai uang deposito mu" Oh apakah itu sungguh pantas untuk di ucapkan seorang suami.
Bagaimana dengan orang tua mu? Tentu saja mereka tidak peduli kepada ku, padahal waktu itu aku sedang mengandung anak kita.  Mereka hanya memperdulikan cucu mereka tapi tidak dengan ku.  Ibu mu hanya dapat menyalahkan segala sesuatu yang ku perbuat, sedang kau hanya diam saja melihat aku di perlakukan seperti itu.
Bahkan keadaan semakin parah ketika anak pertama kita lahir. Aku masih ingat dengan jelas waktu itu orang tua mu sedang ke pesta dan anak kita baru beberapa minggu. Kita berdua sedang mencoba mengasuh nya. Dengan pengetahuan minim kita mencoba memberikan susu formula kepada bayi kita, namun yang terjadi adalah dia tersedak dan kau begitu panik sembari bergumam " Udah tau gini ke pesta nya 7lama-lama."   Dari sikapmu itu membuat jatuh perasaan ku sebagai ibu nya.  Belum lagi jika ada keluarga mu yang entah dari mana datang nya membicarakan kekurangan ku dan segala macam perkataan basa basi yang menjatuhkan aku.  Apakah kau mengerti semua itu?
Maka ketika bayi kita sudah 4 bulan aku memutuskan untuk kerja agar bisa sedikit bernafas lega.  Namun kau seperti separuh hati mendukungku bekerja.  Aku sering sekali terlambat untuk masuk bekerja dan tahukah kau besar nya denda yang ku terima bisa untuk membeli sekaleng susu formula anak kita.  Bahkan uang gaji yang seharus nya bisa kutabung namun kau malah meminta ku untuk membeli keperluan bayi kita.  Bukan aku tidak mau melakukan nya. Dengan gaji ku yang tidak seberapa aku hanya bisa menabung beberapa ratus sebulan.  Aku hanya dapat menangis kesal dengan keadaan itu.   Kau dengan penghasilan lebih besar dari ku tidak mau memberiku uang saat aku bekerja padahal itu tugas mu sebagai suami menafkahi aku istri mu.
Saat aku bernafas lega dengan pekerjaan ku, lagi-lagi aku hamil padahal bayi kita baru berusia 8 bulan dan sekali lagi kau melarangku untuk bekerja, padahal aku sudah nyaman.  Tetapi bukan kau nama nya jika tidak mengancam , padahal tinggal seminggu aku bekerja dan kau meminta ku untuk tidak masuk lagi dan kau berkata "Kamu pilih bekerja atau cerai ?"  Ah kata cerai bukan yang pertama keluar dari mulut mu.  Di awal-awal pernikahan kau juga mengatakan hal itu. Penyebab nya tentu saja ibu mu, kau marah  ketika aku tidak mau membantu ibu mu yang OCD itu. Bagi ku buat apa membuang tenaga mengerjakan nya kalau akhir nya tidak di hargai.  Dan aku marah kepada mu karena tidak tahan dengan ibu mu, aku meminta mu untuk pisah rumah.  Kau malah menjawab  "Kalau begitu kita cerai, kamu beresin barang-barang mu saya pulangin kamu ke mama kamu." Bodoh nya aku tidak mempunyai kemampuan secara finansial untuk menyanggupi perkataan mu.  Jadi aku memilih bertahan dengan pernikahan ini meskipun aku tidak merasa bahagia.
Hari-hari ku di rumah orang tua mu bagaikan di neraka tidak ada kedamaian , ketentraman , kehangatan yang ku rasakan seperti di rumah ibuku.
Lalu bagaimana saat anak pertama kita di vonis dokter celebral palsy bagaimana dengan mu? Bagaimana dengan orang tua mu?  Mereka terutama ibu mu hanya dapat mengoceh tiada henti.  Aku kesepian dan menderita di rumah itu.
Sabar? Kau meminta ku untuk sabar sementara peluru hujatan cacian hinaan mengarah pada ku saat anak kedua kita di panggil olehNya dan lagi-lagi kau seolah tidak mau peduli dengan ku.   Beberapa bulan kemudian aku jatuh sakit dan kau "menitipkan" aku kepada ibu ku.  Dengan dalih aku akan cepat memperoleh kesembuhan, kau tahu ibuku masih bekerja jadi kau tidak menyisihkan sebagian uang mu kepada ibuku membiarkan aku menjadi "beban" ibuku.
Dan saat anak pertama kita menyusul adik nya, beberapa minggu kemudian konflik itu kembali terjadi antara aku dengan ibu mu.  Kau yang tahu kondisi diri ku tidak membela ku sama sekali dan aku juga dengan emosi yang tidak tertahankan lagi meluapkan emosi ku.  Kau yang tak mengerti mengganggap ku bersunggut-sunggut.  Dan aku lagi-lagi  "pulang" kepada ibuku dengan status sebagai istri mu.  Tak terasa sudah setahun lebih kita hidup seperti ini.
Katakan padaku hai suami ku , apa yang harus aku lakukan ? Harus bersabar sampai kapan kah aku bertahan menghadapi sikap mu yang seolah tak peduli itu?
Dan setelah menunggu lama kau berkata sudah menemukan kontrakan. Kita berdua mencoba menempati ny tanpa persiapan apa-apa.  Terasa panas dan banyak nyamuk yang mengganggu.  Aku pulang ke ibuku untuk membereskan semua yang akan di bawa.  Yang membuatku kesal kau tidak mau menjemputku meminta ku naik taxi online yang membuat ibuku kembali meradang dan berkata " Ini kamu yang mau pindah dia ga pindah semua nya di serahin ke kamu".  Dengan kesal aku mengirim pesan kepada mu dan tidak lama kau langsung menjemputku.
Dan aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dengan sikap mu itu.

Minggu, 19 Juni 2016

Si kecil hitam yang menjengkelkan

Pada postingan kali ini aku ingin membahas soal binatang ini. Warna nya hitam, kecil, berkulit keras dan tentu saja menjengkelkan. Malam itu aku terbangun dengan gatal-gatal di seluruh badan ku. Berbagai cara sudah ku lakukan agar gatal nya mereda, tapi gagal total gatal nya tetap menyerang. Badanku pun ikut panas rasa nya. Gitu pagi datang aku merasa lengan ku sakit hanya aku tidak memperdulikan nya sepanjang hari itu. Hingga aku ingin tidur dan mengoleskan lotion anti nyamuk aku melihat tangan kiriku bengkak dan panas. Dan aku bertanya pada ibuku " Ma, coba liat kayak nya bengkak" spontan ibuku langsung berhenti menjahit dan menuju kamar sambil berkata " Ini binatang yang jahat, coba pakein arak gosok."  Dan tempat yang bengkak terasa panas, sementara ibuku mencari binatang itu dan ketika akan di ketok palu telepon berdering dan aku yang di suruh memukul ny. Jujur saja aku takut membunuh bintatang itu cuma kalau tidak di bunuh binatang itu terus menggigit ku. Dan darah bermuncratan ketika ku pukulkan palu. Aku langsung kabur ke luar kamar dan biarkan ibu ku yang membereskan nya ( i love u mom). Aku jijik dan takut melihat nya.  Dan tidak lama aku baru tau nama binatang itu tukik menggigit dan menghisap darah serta mengeluarkan racun yang membuat bengkak dan panas.
Aku sempat bertanya dari mana binatang itu datang ibuku hanya menjawab ini bangunan tua.
Sungguh binatang kecil hitam yang menyusahkan.

Jumat, 10 Juni 2016

Ibu mertua bukan lah ibu kandung ku!!

Mungkin bagi sebagian orang, judul postingan ku agak keras ( terlampau keras malah?).  Ibu mertua bukan lah ibu kandung ku. Aku memilih judul ini di karenakan pengalaman yang ku alami. Bila kalian menganggap aku salah itu adalah hak kalian. Aku tidak peduli, karena aku bukan kalian dan kalian bukan aku.  Semenjak menikah kehidupan ku yang tentram pun berubah. Tiada hari tanpa kebencian, amarah, pertengkaran dan air mata.  Mungkin kalian bertanya untuk apa aku menikah. Aku menikah karena kecelakaan aku hamil duluan.
Beberapa hari tinggal bersama orang tua nya sungguh membuatku tidak nyaman.  Ya , ibu mertua ku seperti nya punya kecenderungan OCD( obsesion compulsif disorder), maka segala sesuatu yang ku kerjakan tidak ada yang benar. 
Jadi aku memutuskan untuk tidak membuang waktu ku untuk mengerjakan apa pun. Mungkin kalian bilang aku malas , aku memang seperti ini sekali aku tidak di hargai aku tidak akan mengerjakan nya. Biarkan saja yang cape bukan aku tapi dia!!!!!   Awal pernikahan tidak seindah ku bayangkan apalagi aku sudah tidak bekerja jadi bisa kalian bayang kan seberapa sering nya pertemuan dengan nya. Dengan rumah yang termasuk kecil tak terhitung pertengkaran antara aku dengan suami ku ataupun aku dengan ibu mertua ku.  Apa menurut kalian aku berlebihan ?  Aku merasakan tatapan mata permusuhan yang seolah menusuk tubuhku dan membuat aku hanya memendam kekesalan dalam hati... Belum lagi dengan pintu depan yang terbuka membuat orang-orang yang tidak jelas itu leluasa masuk dan mengobrol dengan mertua ku. Dan obrolan mereka sering membuatku gerah dan panas kuping.  Awal nya aku kaget kenapa ada orang tua yang membicarakan keburukan anak nya dan ya itu lah yang terjadi setiap perkataan yang keluar dari mulut ibu mertua ku tidak ada yang bijak.  Ok kalau sudah begitu mengapa tidak pindah saja dan beres kan, oh tentu saja aku sudah sering meminta untuk pindah tapi suami ku beralasan tidak punya uang lagi, sungguh alasan yang mengada-ada, dia bukan nya tidak bekerja dan aku tidak menginginkan yang mahal hanya di bawah satu juta sebulan sudah cukup untuk kami dan sesudahnya kami selalu bertengkar.  Padahal aku sedang hamil tapi mereka tidak memperlakukan dengan baik. Pepatah mertua perempuan tidak akan cocok dengan menantu perempuan memang benar. Dia selalu menganggap aku pengganggu apalagi jika dia berkata "Memang nya mama ini pembantu" . Jadi seharian aku lebih banyak mengurung diri di kamar menunggu suami ku pulang. Pekerjaan nya dulu sebagai supir taxi membuatnya pergi subuh dan pulang larut malam. Dan hanya lah waktu dia libur aku bisa bernafas lega dari mertua ku yang super cerewet.  
Setelah melahirkan keadaan semakin parah karena saudara yang entah dari mana datang ke rumah. Dengan gaya sok menggurui, mengatur membuatku semakin tersiksa lahir batin. 
Suami ku tidak pernah bisa menentramkan jiwa ku, dia selalu bilang itu orang tua nya. Baik!!  Itu memang orang tua mu bukan orang tua ku!!!  Yang mereka besarkan kamu bukan aku.  Namun itu tidak pernah suamiku pahami, aku hanya dapat menangis mengingat perlakuan ibu mertua kepada ku. Dia tidak mengalami nya karena sibuk kerja. Kerja untuk apa? Kerja untuk siapa? Kalau untuk makan saja masih di tanggung ayah mertuaku . Sudah berbulan-bulan aku menikah namun dia masih nyaman berlindung dengan orang tua nya.  Untuk uang saku ku saja dia sangat pelit dengan alasan untuk anak kami. Mengharapkan aku makan masakan ibu mertua ku.  Makan itu membuatku sakit perut karena terlihat ketidak iklasan di mata nya saat aku mengambil makanan dari dapur seolah dari mata nya dia berbicara "Jangan makan, kau hanya menghabiskan makanan di rumah ini."   Aku makan di luar bahkan aku harus sembunyi-sembunyi untuk sekedar masak mie instan hanya menghindari ibu mertua ku.  Sangat brrbeda jauh saat aku masih di rumah ibuku, kebutuhan makan, susu bahkan vitamin terpenuhi.  Ibuku jarang memarahi ku malah terlalu santai.  Bagi ibu ku tidak masalah berapapun uang yang di keluarkan  asalkan anak nya (aku) sehat. Ada hari di mana aku menyesali semua ini namun tidak banyak yang dapat aku lakukan.  Suamiku mememinta ku  terus bersabar  hingga saat ini, saat anak kami sudah di ambil Tuhan dan aku pun kembali di usir oleh ibuku. Ya aku kembali lagi untuk kesekian kali pada ibu yang melahirkan dan membesarkan ku tanpa pamrih.  Satu-satu nya tempat yang mau menerima ku apapun kondisi ku..I love u  my mom...Omelan ibuku bisa ku terima karena hanya dia tempat aku bersandar sekarang. Di usia nya yang tidak lagi muda ibu ku harus tetap bekerja keras untuk kehidupan kami berdua.  Ibuku tidak bisa menabung lagi dalam setahun terakhir karena aku.  Itulah pengorbanan ibu ku yang membuat aku tidak dapat berkat apa-apa karena aku yang bersalah.  Sementara suami ku bahkan tidak bersikap seperti suami, tidak berani menemui ibuku setengah tahun terakhir.   Suami ku meninggalkan ku dalam kebimbangan akan masa depan kami.
Banyak yang mengatakan untuk cerai, namun apakah cerai bisa mengembalikan anak-anak kami yang telah tiada?
Oh ibu pantaskah aku mendapat maafmu setelah semua yang ku lakukan menghancurkan diriku? Apakah aku masih dapat membahagiakan mu dan membalas semua jasa mu?
Oh ibu mertua mengapa tidak dari awal kau menentang hubungan kami kalau kau tidak menyukaiku?
Oh ibu mertua jangan salahkan aku jika kelak aku tidak merawat mu di masa tua mu karena kau tidak merawat ku saat aku jatuh sakit..

Minggu, 05 Juni 2016

Anjing tua ku

Yups, sesuai judul aku mau menceritakan tentang anjing ku yang bernama Taro, banyak yang koment kayak nama snack aja apa anjing nya doyan snack.  Taro memang doyan snack, tapi bukan itu alasan nya dia bernama Taro. Waktu itu drama Huo Ce Lei sedang tayang karakter nya bernama Taro dan makan mulu, ya pas lah dengan anjing baru ini ama makanan rakus banget hehehehe..
Taro datang ke rumah ini tahun 2002, seminggu setelah anjing ku yang lama hilang. Sedih ya pasti lah cuma ga bisa nyalahin siapa-siapa karena si hitam punya kebiasaan jalan-jalan pagi siang balik. Hari itu sampai sore Hitam belum juga balik dan ayahku bilang wah Hitam udah di potong kali. Ya sudah lah di relain aja. Dan waktu aku pulang sekolah ayahku bilang tuh ada anjing baru di belakang, langsung aku samperin tuh anjing yang ada malah menggeram.  Kejam nya itu anjing huhuhuhuhu..Hampir seminggu Taro menggeram begitu melihat aku.
Taro adalah anjing campuran dengan dominan herder jadi jangan heran kalau orang-orang takut melihat nya.  Awal datang badan Taro gemuk dengan bulu yang kasar. Dan bukan ibu ku kalau tidabisa mengubah Taro ,dengan pola makan yang teratur dan menu sehat dalam beberapa bulan badan nya menjadi ramping dan bulu nya halus.
Tabiat Taro tergolong lebih sadis, dia membunuh binatang lain yang berkeliaran di dapur dan halaman, ga terhitung berapa banyak kucing dan tikus yang di bunuh. Pokok nya sebelum mati ga bakal di lepas.
Sekarang anjing itu sudah tidak selincah dulu lebih banyak tidur nya. Percaya atau tidak Taro doyan sayur asam, kulit wortel, ha itu anjing apa anjing ? Mungkin karena pola makan seperti itu Taro masih sehat. Ada satu hari tamu datang anak kecil dia bermain dengan Taro ,ga di geramin tuh? Taro ga jahat-jahat amat koq. Dia sayang anak kecil. Oh iya balik ke cerita itu anak bawa kue dia nyodorin kue dan malah ngeces itu anjing, ada-ada aja kelakuan nya.
Kalau aku masak mi instan dia terus deketin aku untuk minta , tapalau aku masak puding boro-boro deket melengos juga kaga. Emang kelakuan tuh anjing tau mana yang enak mana yang ga.
Untuk urusan bergaya Taro juga jago nya, gitu aku ambil hp dan panggil nama nya langsung diam dengan pose siap di foto. Kadang nyebelin kadang buat ketawa.
Mungkin benar antara binatang peliharaan dan majikan ada hubungan batin. Dan waktu ayahku meninggal, di pagi hari kami sedang sibuk untuk proses kremasi, Taro sedang melamun di kandang nya sambil menatap langit. Entah apa yang di pikirkan nya. Hanya Tuhan dan dia yang tahu.
Oke cukup dulu lah cerita tentang Taro di lain kesempatan akan ku tambahkan bila teringat.Maaf kalau masih berantakan next akan ku perbaiki.Dadah Muaahh.....


Ini lah kisah tentang diri ku

Sesuai dengan tema pada postingan kali ini akakan menceritakan mengenai kehidupan ku. Aku kelahiran Jakarta tahun 1985 dan anak tunggal. Sejak kecil kehidupan ku terjamin, baik dari makanan maupun pakaian. Ibu ku selalu membuatkan aku pakaian yang indah karena beliau adalah penjahit. Perjuangan ibu ku mungkin akan ku kisahkan pada postingan yang berbeda.  Ayahku sudah meninggal pada bulan Desember 2010.  Dan setelah ayahku meninggal kehidupan ku tidak berjalan mulus.  Banyak kejadian pahit yang ku alami hingga saat ini.
Sewaktu kecil aku mengira bahwa kehidupan ku sempurna hingga suatu saat kira-kira aku duduk di kelas 5 sd, ibuku memberitahukan kenyataan yang menghatam kepalaku, bahwa ayahku tidak sesempurna bayangan ku.  Dengan kelakuan yang buruk tidak bertanggung jawab atas keluarga boleh di kata ibu ku lah yang berperan sebagai tulang punggung keluarga sedangkan ayah ku hanya dapat menghabiskan jerih payah ibu ku.  Dan mulai hari itu hidup tak seindah yang ku bayangkan. Semua keindahan hanya lah dalam drama.
Tanpa sadar aku dan ayah hanya membebani ibu ku. Dengan kondisi kesehatan yang lemah semenjak kecil kondisi fisik ku tidak seperti anak lain. Lelah sedikit langsung sakit. Masuk rumah sakit sudah pernah ku alami karena DBD bahkan di usiaku yang sekarang aku juga mengalami masuk rumah sakit .  Kadang aku berfikir untuk apa aku di lahirkan kalau hanya menyusahkan ibuku saja. Bahkan aku belum dapat membahagiakan Beliau. Hidupku sedang berada di titik terendah. Hanya hinaan dan cibiran yang ku alami. Aku tak tahu sampai kapan semua ini berlalu..Hanya dapat berharap dan berdoa kepada Nya..