Sering aku bertanya-tanya sendiri. "Manusia seperti apakah aku?" Kedua orang tua ku pintar pandai cerdik namun mengapa aku tidak seperti mereka. Aku lemah, lamban berfikir dan tidak cerdas, satu-satu kesamaan ku adalah golongan darah dengan almarhum papa AB dan sifat keras nya menurun padaku.
Di kala aku mulai mengerti apa itu hidup aku juga menyadari ada sesuatu yang salah pada diriku. Aku memang tumbuh menjadi orang yang supel dan mudah bergaul namun tidak memiliki keberanian untuk tampil aku menjadi minder dan tergagap bila maju ke depan. Entahlah apa yang terjadi padahal aku sudah mempersiapkan semua nya dan cless tiba-tiba keberanian ku menguap saat harus berhadapan dengan orang banyak. Dan dengan kondisi ini sangat sulit bagi ku untuk lolos interview kerja karena kegugupan ku. Aku selalu gagal di tahap pertam interview dan psikotes..Menyakitkan memang namun aku harus menelan semua nya. Bahkan saat aku di pecat berkali-kali karena kemampuan ku tidak memadai. Aku menjadi trauma untuk bekerja pada orang lain, namun ibu ku seolah tidak menyadari dan bertanya "Kamu udh ga mau kerja lagi ya?" Keadaan semakin parah saat ada keluarga yang datang ke rumah dan bertanya "Napa ga belajar jahit aja, daripada ga ngapa-ngapain ." Aku jengah dan memilih diam sembari memainkan ponsel pintar ku. Bukan nya aku ga mau belajar..Aku sangat ingin hanya otak ku yang tidak mampu. Aku tidak pintar berhitung dan penglihatan ku tidak seawas dulu lagi.
Memang orang tua ku menyayangiku hanya saja komunikasi terbuka tidak pernah ku alami. Saat aku menanyakan kenapa ayahku hanya menjawab pokoknya ga boleh dan di situlah kesalahan nya. Mendesak ayahku untuk menberitahu malah membuat kami bertengkar dan ibu ku lah yang menjadi penengah. Aku lebih memilih untuk mencari tahu sendiri. Padahal aku hanya ingin alasan mengapa itu tidak boleh. Aku dan ayahku memang tidak cocok.
Lalu bagaimana dengan ibuku, ibuki seorang yang tangguh mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menjadi tulang punggung keluarga. Aku sering merasa kesepian saat di rumah, saat aku ingin mengajak ibuku bicara , beliau hanya tenggelam dalam pekerjaan nya dan mengacuhkan ku. Ibuku sangat sabar dan terbuka namun tetap saja kalah oleh ayahku, padahal ayahku tidak bekerja dan bergantung pada ibuku. Kadang aku bertanya mengapa mama begitu percaya pada ayahku dan menyerahkan uang nya untuk ayahku. Percaya atau tidak aku adalah orang tuaku telah gagal untuk membimbingku dan menempatkan aku pada kesulitan.
Berubah ? Tentu saja aku mau berubah menjadi percaya diri luar dalam tidak phobia terhadap keramaian. Nafasku sesak bila membayangkan harus tampil ke depan dan mempresentasikan sesuatu. Seolah tatapan mata orang banyak ingin mengatakan "Cepat sana untuk apa lama-lama kami tidak ingin nelihatmu lebih lama."
Adakah mereka mengerti yang kurasakan? Mungkin tidak karena semua kerabat selalu bertanya hal yang ingin ku jawab. Dengan muka tanpa dosa bahkan mereka bilang ya nama nya juga kerja..Arrggghh rasa nya ingin aku teriak dan mengatakan pada mereka, aku tidak mau dan tidak mungkin di terima bekerja dengan kondisi ku ini.
Namun aku hanya dapat berdiam diri menahan semua nya. Apalagi aku menikah juga karena kesalahan ku. Mungkin kalau tidak terjadi hal itu aku masih sendiri hingga sekarang. Hanya nasi sudah menjadi bubur, aku hanya dapat menjalani dengan banyak berdoa dan kesabaran.
Sabtu, 02 Juli 2016
Salam hangat untuk besan
Salam hangat untuk besan. Apa kabar kalian? Apakah baik-baik saja? Tentu nya tidak kan. Karena ku lihat raut kesedihan terpancar dari putri kami. Besan! Adakah yang salah dari putri kami di mata kalian? Jika ada mengapa kita tidak saling terbuka saja. Kalian membesarkan putra kalian dengan limpahan kasih sayang yang tak berbatas, begitu juga dengan kami membesarkan putri kami. Tak tehitung biaya yang sudah kalian keluarkan untuk kebutuhan makanan hingga sekolah begitu pun dengan kami. Kalian menjaga putra kalian seolah-olah dia adalah harta kalian yang beharga tak kalian biarkan dia menangis karena hal kecil, maka demikian pula putri kami beharga untuk kami.
Putri kami rela meninggalkan kami orang tua nya demi hanya untuk mengikuti putra kalian yang adalah suami nya. Namun kami mencemaskan perlakuan kalian kepada nya. Tidakkah kalian sadar dia hanyalah orang asing sebelum bertemu dengan putra kalian. Mengapa kalian memperlakukan putri kami tidak layak. Ingatlah bahwa kita juga adalah menantu dari mertua kita dan sekarang giliran kita yang menjadi mertua bagi anak-anak kita.
Wahai besan! Sebenarnya apa tujuan kalian saat anak kita memutuskan untuk menikah? Apa kah untuk mendapat menantu atau pembantu? Tentu saja kalian akan menjawab kami mendapat menantu.. Tapi kami orang tua nya jelas melihat kalian hanya ingin mendapat pembantu.
Sekarang di rumah kalian dia harus mengerjakan pekerjaan yang sebelum nya tidak pernah kami bayangkan di rumah kami. Mungkin kalian berfikir kami sangat memanjakan nya. Iya karena dia adalah tuan putri di hati kami yang senyum nya bagaikan siraman energi yang menyemagati kami untuk bekerja dan menghadapi hidup. Dan sekarang sinar itu sudah redup menghilang entah sampai kapan. Dan kalian tidak pernah dapat mengerti itu semua karena kalian tidak melahirkan nya. Namun dari nya lah cucu-cucu kita kelak lahir.
Kalian terlalu memasang standar tinggi atas semua yang di lakukan nya tanpa peduli dia bisa atau mau, yang kalian inginkan hanya paksaan agar "menantumu" menghormati mu. Apakah kalian merawat nya setulus hati dan menyiapkan makanan kesukaan nya saat dia sakit seperti kalian merawat putra kalian ? Apakah kalian dapat menahan diri untuk tidak memarahi nya saat putra kalian tidak ada di rumah?
Apakah kalian pernah menganggap dia adalah ibu dari cucu mu? Apakah menurut kalian "menantumu" adalah beban bagi keluarga kalian? Sebagai orang tua memang kita tidak bisa melihat anak kita dalam kesusahan, namun sekali saja kesalahan anak kita akan terus menempel layak nya bayi padahal tanpa kita sadari usia dan fisik kita sudah menua.
Kalian sebagai orang tua putra kalian tidak masalah dengan hal itu? Namun kami sebagai orang tua dari "menantu" kalian sangat terganggu dan yang menyakitkan kami tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk nya. Jika dulu tangan kami selalu terulur saat putri kami terjatuh sekarang kami hanya dapat mengamati nya saja. Karena putra kalian sudah mendapatkan hak melebihi kami orang tua kandung nya.
Putri kami rela meninggalkan kami orang tua nya demi hanya untuk mengikuti putra kalian yang adalah suami nya. Namun kami mencemaskan perlakuan kalian kepada nya. Tidakkah kalian sadar dia hanyalah orang asing sebelum bertemu dengan putra kalian. Mengapa kalian memperlakukan putri kami tidak layak. Ingatlah bahwa kita juga adalah menantu dari mertua kita dan sekarang giliran kita yang menjadi mertua bagi anak-anak kita.
Wahai besan! Sebenarnya apa tujuan kalian saat anak kita memutuskan untuk menikah? Apa kah untuk mendapat menantu atau pembantu? Tentu saja kalian akan menjawab kami mendapat menantu.. Tapi kami orang tua nya jelas melihat kalian hanya ingin mendapat pembantu.
Sekarang di rumah kalian dia harus mengerjakan pekerjaan yang sebelum nya tidak pernah kami bayangkan di rumah kami. Mungkin kalian berfikir kami sangat memanjakan nya. Iya karena dia adalah tuan putri di hati kami yang senyum nya bagaikan siraman energi yang menyemagati kami untuk bekerja dan menghadapi hidup. Dan sekarang sinar itu sudah redup menghilang entah sampai kapan. Dan kalian tidak pernah dapat mengerti itu semua karena kalian tidak melahirkan nya. Namun dari nya lah cucu-cucu kita kelak lahir.
Kalian terlalu memasang standar tinggi atas semua yang di lakukan nya tanpa peduli dia bisa atau mau, yang kalian inginkan hanya paksaan agar "menantumu" menghormati mu. Apakah kalian merawat nya setulus hati dan menyiapkan makanan kesukaan nya saat dia sakit seperti kalian merawat putra kalian ? Apakah kalian dapat menahan diri untuk tidak memarahi nya saat putra kalian tidak ada di rumah?
Apakah kalian pernah menganggap dia adalah ibu dari cucu mu? Apakah menurut kalian "menantumu" adalah beban bagi keluarga kalian? Sebagai orang tua memang kita tidak bisa melihat anak kita dalam kesusahan, namun sekali saja kesalahan anak kita akan terus menempel layak nya bayi padahal tanpa kita sadari usia dan fisik kita sudah menua.
Kalian sebagai orang tua putra kalian tidak masalah dengan hal itu? Namun kami sebagai orang tua dari "menantu" kalian sangat terganggu dan yang menyakitkan kami tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk nya. Jika dulu tangan kami selalu terulur saat putri kami terjatuh sekarang kami hanya dapat mengamati nya saja. Karena putra kalian sudah mendapatkan hak melebihi kami orang tua kandung nya.
Langganan:
Komentar (Atom)