Sabtu, 02 Juli 2016

Salam hangat untuk besan

Salam hangat untuk besan.  Apa kabar kalian? Apakah baik-baik saja?  Tentu nya tidak kan. Karena ku lihat raut kesedihan terpancar dari putri kami.  Besan!  Adakah yang salah dari putri kami di mata kalian? Jika ada mengapa kita tidak saling terbuka saja.  Kalian membesarkan putra kalian dengan limpahan kasih sayang yang tak berbatas, begitu juga dengan kami membesarkan putri kami.  Tak tehitung biaya yang sudah kalian keluarkan untuk kebutuhan makanan hingga sekolah begitu pun dengan kami.  Kalian menjaga putra kalian seolah-olah dia adalah harta kalian yang beharga tak kalian biarkan dia menangis karena hal kecil, maka demikian pula putri kami beharga untuk kami.
Putri kami rela meninggalkan kami orang tua nya demi hanya untuk mengikuti putra kalian yang adalah suami nya.  Namun kami mencemaskan perlakuan kalian kepada nya.  Tidakkah kalian sadar dia hanyalah orang asing sebelum bertemu dengan putra kalian.  Mengapa kalian memperlakukan putri kami tidak layak. Ingatlah bahwa kita juga adalah menantu dari mertua kita dan sekarang giliran kita yang menjadi mertua bagi anak-anak kita.
Wahai besan!  Sebenarnya apa tujuan kalian saat anak kita memutuskan untuk menikah? Apa kah untuk mendapat menantu atau pembantu? Tentu saja kalian akan menjawab kami mendapat menantu.. Tapi kami orang tua nya jelas melihat kalian hanya ingin mendapat pembantu.
Sekarang di rumah kalian dia harus mengerjakan pekerjaan yang sebelum nya tidak pernah kami bayangkan di rumah kami.  Mungkin kalian berfikir kami sangat memanjakan nya. Iya karena dia adalah tuan putri di hati kami yang senyum nya bagaikan siraman energi yang menyemagati kami untuk bekerja dan menghadapi hidup.  Dan sekarang sinar itu sudah redup menghilang entah sampai kapan.  Dan kalian tidak pernah dapat mengerti itu semua karena kalian tidak melahirkan nya.  Namun dari nya lah cucu-cucu kita kelak lahir.
Kalian terlalu memasang standar tinggi atas semua yang di lakukan nya tanpa peduli dia bisa atau mau, yang kalian inginkan hanya paksaan agar "menantumu" menghormati mu.  Apakah kalian merawat nya setulus hati dan menyiapkan makanan kesukaan nya saat dia sakit seperti kalian merawat putra kalian ? Apakah kalian dapat menahan diri untuk tidak memarahi nya saat putra kalian tidak ada di rumah?
Apakah kalian pernah menganggap dia adalah ibu dari cucu mu? Apakah menurut kalian "menantumu" adalah beban bagi keluarga kalian?  Sebagai orang tua memang kita tidak bisa melihat anak kita dalam kesusahan, namun sekali saja kesalahan anak kita akan terus menempel layak nya bayi padahal tanpa kita sadari usia dan fisik kita sudah menua.
Kalian sebagai orang tua putra kalian tidak masalah dengan hal itu?  Namun kami sebagai orang tua dari "menantu" kalian sangat terganggu dan yang menyakitkan kami tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk nya. Jika dulu tangan kami selalu terulur saat putri kami terjatuh sekarang kami hanya dapat mengamati nya saja. Karena putra kalian sudah mendapatkan hak melebihi kami orang tua kandung nya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar