Sabtu, 02 Juli 2016

Manusia seperti apakah aku?

Sering aku bertanya-tanya sendiri. "Manusia seperti apakah aku?"  Kedua orang tua ku pintar pandai cerdik namun mengapa aku tidak seperti mereka.  Aku lemah, lamban berfikir dan tidak cerdas, satu-satu kesamaan ku adalah golongan darah dengan almarhum papa AB dan sifat keras nya menurun padaku.
Di kala aku mulai mengerti apa itu hidup aku juga menyadari ada sesuatu yang salah pada diriku. Aku memang tumbuh menjadi orang yang supel dan mudah bergaul namun tidak memiliki keberanian untuk tampil aku menjadi minder dan tergagap bila maju ke depan.  Entahlah apa yang terjadi padahal aku sudah mempersiapkan semua nya dan cless tiba-tiba keberanian ku menguap saat harus berhadapan dengan orang banyak.  Dan dengan kondisi ini sangat sulit bagi ku untuk lolos interview kerja karena kegugupan ku. Aku selalu gagal di tahap pertam interview dan psikotes..Menyakitkan memang namun aku harus menelan semua nya.  Bahkan saat aku di pecat berkali-kali karena kemampuan ku tidak memadai.  Aku menjadi trauma untuk bekerja pada orang lain, namun ibu ku seolah tidak menyadari dan bertanya "Kamu udh ga mau kerja lagi ya?" Keadaan semakin parah saat ada keluarga yang datang ke rumah dan bertanya "Napa ga belajar jahit aja, daripada ga ngapa-ngapain ."  Aku jengah dan memilih diam sembari memainkan ponsel pintar ku.  Bukan nya aku ga mau belajar..Aku sangat ingin hanya otak ku yang tidak mampu. Aku tidak pintar berhitung dan penglihatan ku tidak seawas dulu lagi.
Memang orang tua ku menyayangiku hanya saja komunikasi terbuka tidak pernah ku alami.  Saat aku menanyakan kenapa ayahku hanya menjawab pokoknya ga boleh dan di situlah kesalahan nya. Mendesak ayahku untuk menberitahu malah membuat kami bertengkar dan ibu ku lah yang menjadi penengah.  Aku lebih memilih untuk mencari tahu sendiri. Padahal aku hanya ingin alasan mengapa itu tidak boleh. Aku dan ayahku memang tidak cocok.  
Lalu bagaimana dengan ibuku, ibuki seorang yang tangguh mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menjadi tulang punggung keluarga.  Aku sering merasa kesepian saat di rumah, saat aku ingin mengajak ibuku bicara , beliau hanya tenggelam dalam pekerjaan nya dan mengacuhkan ku.  Ibuku sangat sabar dan terbuka namun tetap saja kalah oleh ayahku, padahal ayahku tidak bekerja dan bergantung pada ibuku. Kadang aku bertanya mengapa mama begitu percaya pada ayahku dan menyerahkan uang nya untuk ayahku. Percaya atau tidak aku adalah orang tuaku telah gagal untuk membimbingku dan menempatkan aku pada kesulitan.
Berubah ? Tentu saja aku mau berubah menjadi percaya diri luar dalam tidak phobia terhadap keramaian. Nafasku sesak bila membayangkan harus tampil ke depan dan mempresentasikan sesuatu.  Seolah tatapan mata orang banyak ingin mengatakan "Cepat sana untuk apa lama-lama kami tidak ingin nelihatmu lebih lama."
Adakah mereka mengerti yang kurasakan? Mungkin tidak karena semua kerabat selalu bertanya hal yang ingin ku jawab.  Dengan muka tanpa dosa bahkan mereka bilang ya nama nya juga kerja..Arrggghh rasa nya ingin aku teriak dan mengatakan pada mereka, aku tidak mau dan tidak mungkin di terima bekerja dengan kondisi ku ini.
Namun aku hanya dapat berdiam diri menahan semua nya. Apalagi aku menikah juga karena kesalahan ku. Mungkin kalau tidak terjadi hal itu aku masih sendiri hingga sekarang. Hanya nasi sudah menjadi bubur, aku hanya dapat menjalani dengan banyak berdoa dan kesabaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar