Jumat, 10 Juni 2016

Ibu mertua bukan lah ibu kandung ku!!

Mungkin bagi sebagian orang, judul postingan ku agak keras ( terlampau keras malah?).  Ibu mertua bukan lah ibu kandung ku. Aku memilih judul ini di karenakan pengalaman yang ku alami. Bila kalian menganggap aku salah itu adalah hak kalian. Aku tidak peduli, karena aku bukan kalian dan kalian bukan aku.  Semenjak menikah kehidupan ku yang tentram pun berubah. Tiada hari tanpa kebencian, amarah, pertengkaran dan air mata.  Mungkin kalian bertanya untuk apa aku menikah. Aku menikah karena kecelakaan aku hamil duluan.
Beberapa hari tinggal bersama orang tua nya sungguh membuatku tidak nyaman.  Ya , ibu mertua ku seperti nya punya kecenderungan OCD( obsesion compulsif disorder), maka segala sesuatu yang ku kerjakan tidak ada yang benar. 
Jadi aku memutuskan untuk tidak membuang waktu ku untuk mengerjakan apa pun. Mungkin kalian bilang aku malas , aku memang seperti ini sekali aku tidak di hargai aku tidak akan mengerjakan nya. Biarkan saja yang cape bukan aku tapi dia!!!!!   Awal pernikahan tidak seindah ku bayangkan apalagi aku sudah tidak bekerja jadi bisa kalian bayang kan seberapa sering nya pertemuan dengan nya. Dengan rumah yang termasuk kecil tak terhitung pertengkaran antara aku dengan suami ku ataupun aku dengan ibu mertua ku.  Apa menurut kalian aku berlebihan ?  Aku merasakan tatapan mata permusuhan yang seolah menusuk tubuhku dan membuat aku hanya memendam kekesalan dalam hati... Belum lagi dengan pintu depan yang terbuka membuat orang-orang yang tidak jelas itu leluasa masuk dan mengobrol dengan mertua ku. Dan obrolan mereka sering membuatku gerah dan panas kuping.  Awal nya aku kaget kenapa ada orang tua yang membicarakan keburukan anak nya dan ya itu lah yang terjadi setiap perkataan yang keluar dari mulut ibu mertua ku tidak ada yang bijak.  Ok kalau sudah begitu mengapa tidak pindah saja dan beres kan, oh tentu saja aku sudah sering meminta untuk pindah tapi suami ku beralasan tidak punya uang lagi, sungguh alasan yang mengada-ada, dia bukan nya tidak bekerja dan aku tidak menginginkan yang mahal hanya di bawah satu juta sebulan sudah cukup untuk kami dan sesudahnya kami selalu bertengkar.  Padahal aku sedang hamil tapi mereka tidak memperlakukan dengan baik. Pepatah mertua perempuan tidak akan cocok dengan menantu perempuan memang benar. Dia selalu menganggap aku pengganggu apalagi jika dia berkata "Memang nya mama ini pembantu" . Jadi seharian aku lebih banyak mengurung diri di kamar menunggu suami ku pulang. Pekerjaan nya dulu sebagai supir taxi membuatnya pergi subuh dan pulang larut malam. Dan hanya lah waktu dia libur aku bisa bernafas lega dari mertua ku yang super cerewet.  
Setelah melahirkan keadaan semakin parah karena saudara yang entah dari mana datang ke rumah. Dengan gaya sok menggurui, mengatur membuatku semakin tersiksa lahir batin. 
Suami ku tidak pernah bisa menentramkan jiwa ku, dia selalu bilang itu orang tua nya. Baik!!  Itu memang orang tua mu bukan orang tua ku!!!  Yang mereka besarkan kamu bukan aku.  Namun itu tidak pernah suamiku pahami, aku hanya dapat menangis mengingat perlakuan ibu mertua kepada ku. Dia tidak mengalami nya karena sibuk kerja. Kerja untuk apa? Kerja untuk siapa? Kalau untuk makan saja masih di tanggung ayah mertuaku . Sudah berbulan-bulan aku menikah namun dia masih nyaman berlindung dengan orang tua nya.  Untuk uang saku ku saja dia sangat pelit dengan alasan untuk anak kami. Mengharapkan aku makan masakan ibu mertua ku.  Makan itu membuatku sakit perut karena terlihat ketidak iklasan di mata nya saat aku mengambil makanan dari dapur seolah dari mata nya dia berbicara "Jangan makan, kau hanya menghabiskan makanan di rumah ini."   Aku makan di luar bahkan aku harus sembunyi-sembunyi untuk sekedar masak mie instan hanya menghindari ibu mertua ku.  Sangat brrbeda jauh saat aku masih di rumah ibuku, kebutuhan makan, susu bahkan vitamin terpenuhi.  Ibuku jarang memarahi ku malah terlalu santai.  Bagi ibu ku tidak masalah berapapun uang yang di keluarkan  asalkan anak nya (aku) sehat. Ada hari di mana aku menyesali semua ini namun tidak banyak yang dapat aku lakukan.  Suamiku mememinta ku  terus bersabar  hingga saat ini, saat anak kami sudah di ambil Tuhan dan aku pun kembali di usir oleh ibuku. Ya aku kembali lagi untuk kesekian kali pada ibu yang melahirkan dan membesarkan ku tanpa pamrih.  Satu-satu nya tempat yang mau menerima ku apapun kondisi ku..I love u  my mom...Omelan ibuku bisa ku terima karena hanya dia tempat aku bersandar sekarang. Di usia nya yang tidak lagi muda ibu ku harus tetap bekerja keras untuk kehidupan kami berdua.  Ibuku tidak bisa menabung lagi dalam setahun terakhir karena aku.  Itulah pengorbanan ibu ku yang membuat aku tidak dapat berkat apa-apa karena aku yang bersalah.  Sementara suami ku bahkan tidak bersikap seperti suami, tidak berani menemui ibuku setengah tahun terakhir.   Suami ku meninggalkan ku dalam kebimbangan akan masa depan kami.
Banyak yang mengatakan untuk cerai, namun apakah cerai bisa mengembalikan anak-anak kami yang telah tiada?
Oh ibu pantaskah aku mendapat maafmu setelah semua yang ku lakukan menghancurkan diriku? Apakah aku masih dapat membahagiakan mu dan membalas semua jasa mu?
Oh ibu mertua mengapa tidak dari awal kau menentang hubungan kami kalau kau tidak menyukaiku?
Oh ibu mertua jangan salahkan aku jika kelak aku tidak merawat mu di masa tua mu karena kau tidak merawat ku saat aku jatuh sakit..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar