Hai untuk lelaki yang berstatus sebagai suamiku. Aku menulis ini bukan tanpa sebab, sebagai istri mu aku sering tidak merasa di anggap. Bagamana dengan komunikasi ? Oh sangat kurang suamiku, kau sering sekali tidak memberitahukan ku apabila kau pergi untuk waktu lama padahal aku sudah sering memberitahukan mu agar mengabari ku bila kau pergi tidak sesuai dengan rencana awal. Namun kau banyak beralasan tidak sempat memegang ponsel mu untuk mengetik pesan singkat singkat. Aku hanya dapat menahan kekesalan di hati.
Bagaimana dengan prioritas mu? Oh tentu prioritas utama mu adalah orang tua dan keluarga besar mu. Begitu kau menerima telepon dari salah satu keluarga mu , kau langsung bergegas untuk meninggalkan aku yang belum terbiasa dengan tempat baru yang asing bagi ku. Aku ketakutan dan tidak bisa memejamkan mata. Katakan padaku bagaimana aku harus bersikap tentang hal ini.
Bagaimana dengan perasaan aman? Belum suami ku, aku belum merasakan keamanan dari mu. Kau sebagai suami tidak bisa atau tidak mau memahami ku. Kau yang dari awal melarang ku untuk tidak bekerja lagi, kini saat anak-anak kita sudah berpulang aku sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan kondisi fisik ku, padahal aku membutuhkan tabungan untuk diriku sendiri.
Apa kau mengerti bagaimana tersiksa nya aku secara mental karena perlakuan ibu mu. Dari awal menikah aku sudah mewanti-wanti agar kita tidak tinggal bersama orang tua mu. Namun hanya alasan yang kau berikan. "Saya tidak punya uang untuk mengontrak rumah, kalau mau pakai uang deposito mu" Oh apakah itu sungguh pantas untuk di ucapkan seorang suami.
Bagaimana dengan orang tua mu? Tentu saja mereka tidak peduli kepada ku, padahal waktu itu aku sedang mengandung anak kita. Mereka hanya memperdulikan cucu mereka tapi tidak dengan ku. Ibu mu hanya dapat menyalahkan segala sesuatu yang ku perbuat, sedang kau hanya diam saja melihat aku di perlakukan seperti itu.
Bahkan keadaan semakin parah ketika anak pertama kita lahir. Aku masih ingat dengan jelas waktu itu orang tua mu sedang ke pesta dan anak kita baru beberapa minggu. Kita berdua sedang mencoba mengasuh nya. Dengan pengetahuan minim kita mencoba memberikan susu formula kepada bayi kita, namun yang terjadi adalah dia tersedak dan kau begitu panik sembari bergumam " Udah tau gini ke pesta nya 7lama-lama." Dari sikapmu itu membuat jatuh perasaan ku sebagai ibu nya. Belum lagi jika ada keluarga mu yang entah dari mana datang nya membicarakan kekurangan ku dan segala macam perkataan basa basi yang menjatuhkan aku. Apakah kau mengerti semua itu?
Maka ketika bayi kita sudah 4 bulan aku memutuskan untuk kerja agar bisa sedikit bernafas lega. Namun kau seperti separuh hati mendukungku bekerja. Aku sering sekali terlambat untuk masuk bekerja dan tahukah kau besar nya denda yang ku terima bisa untuk membeli sekaleng susu formula anak kita. Bahkan uang gaji yang seharus nya bisa kutabung namun kau malah meminta ku untuk membeli keperluan bayi kita. Bukan aku tidak mau melakukan nya. Dengan gaji ku yang tidak seberapa aku hanya bisa menabung beberapa ratus sebulan. Aku hanya dapat menangis kesal dengan keadaan itu. Kau dengan penghasilan lebih besar dari ku tidak mau memberiku uang saat aku bekerja padahal itu tugas mu sebagai suami menafkahi aku istri mu.
Saat aku bernafas lega dengan pekerjaan ku, lagi-lagi aku hamil padahal bayi kita baru berusia 8 bulan dan sekali lagi kau melarangku untuk bekerja, padahal aku sudah nyaman. Tetapi bukan kau nama nya jika tidak mengancam , padahal tinggal seminggu aku bekerja dan kau meminta ku untuk tidak masuk lagi dan kau berkata "Kamu pilih bekerja atau cerai ?" Ah kata cerai bukan yang pertama keluar dari mulut mu. Di awal-awal pernikahan kau juga mengatakan hal itu. Penyebab nya tentu saja ibu mu, kau marah ketika aku tidak mau membantu ibu mu yang OCD itu. Bagi ku buat apa membuang tenaga mengerjakan nya kalau akhir nya tidak di hargai. Dan aku marah kepada mu karena tidak tahan dengan ibu mu, aku meminta mu untuk pisah rumah. Kau malah menjawab "Kalau begitu kita cerai, kamu beresin barang-barang mu saya pulangin kamu ke mama kamu." Bodoh nya aku tidak mempunyai kemampuan secara finansial untuk menyanggupi perkataan mu. Jadi aku memilih bertahan dengan pernikahan ini meskipun aku tidak merasa bahagia.
Hari-hari ku di rumah orang tua mu bagaikan di neraka tidak ada kedamaian , ketentraman , kehangatan yang ku rasakan seperti di rumah ibuku.
Lalu bagaimana saat anak pertama kita di vonis dokter celebral palsy bagaimana dengan mu? Bagaimana dengan orang tua mu? Mereka terutama ibu mu hanya dapat mengoceh tiada henti. Aku kesepian dan menderita di rumah itu.
Sabar? Kau meminta ku untuk sabar sementara peluru hujatan cacian hinaan mengarah pada ku saat anak kedua kita di panggil olehNya dan lagi-lagi kau seolah tidak mau peduli dengan ku. Beberapa bulan kemudian aku jatuh sakit dan kau "menitipkan" aku kepada ibu ku. Dengan dalih aku akan cepat memperoleh kesembuhan, kau tahu ibuku masih bekerja jadi kau tidak menyisihkan sebagian uang mu kepada ibuku membiarkan aku menjadi "beban" ibuku.
Dan saat anak pertama kita menyusul adik nya, beberapa minggu kemudian konflik itu kembali terjadi antara aku dengan ibu mu. Kau yang tahu kondisi diri ku tidak membela ku sama sekali dan aku juga dengan emosi yang tidak tertahankan lagi meluapkan emosi ku. Kau yang tak mengerti mengganggap ku bersunggut-sunggut. Dan aku lagi-lagi "pulang" kepada ibuku dengan status sebagai istri mu. Tak terasa sudah setahun lebih kita hidup seperti ini.
Katakan padaku hai suami ku , apa yang harus aku lakukan ? Harus bersabar sampai kapan kah aku bertahan menghadapi sikap mu yang seolah tak peduli itu?
Dan setelah menunggu lama kau berkata sudah menemukan kontrakan. Kita berdua mencoba menempati ny tanpa persiapan apa-apa. Terasa panas dan banyak nyamuk yang mengganggu. Aku pulang ke ibuku untuk membereskan semua yang akan di bawa. Yang membuatku kesal kau tidak mau menjemputku meminta ku naik taxi online yang membuat ibuku kembali meradang dan berkata " Ini kamu yang mau pindah dia ga pindah semua nya di serahin ke kamu". Dengan kesal aku mengirim pesan kepada mu dan tidak lama kau langsung menjemputku.
Dan aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dengan sikap mu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar